PENGAUDITAN II: PENGENDALIAN INTERNAL DALAM AUDIT

- by Wiwin Juli · - 1 Comment


  1. Pengendalian internal adalah kebijakan dan prosedur yang ditetapkan untuk memperoleh keyakinan bahwa tujuan satuan usaha yang spesifik dapat tercapai. >>SETUJU
Karena pada dasarnya Pengendalian Internal dapat disimpulkan sebagai suatu PERENCANAAN yang terdiri dari metode-metode maupun struktur organisasi yang digunakan untuk menjaga kinerja manajemen suatu organisasi agar berjalan dengan baik.

Dalam beberapa referensi dijelaskan pula pengertian Pengendalian Internal dalam audit, diantaranya:
  • Pengendalian Intern menurut Mulyadi adalah “Pengendalian Intern meliputi struktur organisasi metode dan prosedur yang dikoordinasikan dan diterapkan dalam perusahaan dengan tujuan untuk mengamankan harta milik perusahaan, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansinya, mendorong efisiensi, dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen yang telah ditetapkan sebelumnya.

  • Di lingkungan perusahaan, pengendalian intern didifinisikan sebagai suatu proses yang diberlakukan oleh pimpinan (dewan direksi) dan management secara keseluruhan, dirancang untuk memberi suatu keyakinan akan tercapainya tujuan perusahaan yang secara umum dibagi kedalam tiga kategori, yaitu : Keefektifan dan efisiensi operasional perusahaan,Pelaporan Keuangan yang handal dan Kepatuhan terhadap prosedur dan peraturan yang diberlakukan.


  1. Jika auditor menyimpulkan setelah mengevaluasi pengendalian internal klien bahwa pengendalian internal berjalan efektif maka lingkup pemeriksaan pada waktu melakukan substansi test bisa dipersempit.

>>SETUJU
Karena hal ini sesuai dengan hubungan pengendalian internal dengan ruang lingkup (scope) pemeriksaan. Dalam hubungan ini dijelaskan jika pengendalian intern suatu satuan usaha lemah,kemungkinan terjadi kesalahan, ketidakakuratan ataupun kecurangan dalam perusahaan sangat besar. Sebaliknya jika pengendalian intern sudah berjalan efektif scope pemeriksaan bisa dipersempit. Dalam hal ini audit tidak perlu bukti audit yang terlalu banyak, seperti konfirmasi atas piutang, observasi persediaan dll.
Ketika auditor sudah mendapati bahwa suatu entitas perusahaan mempunyai pengendalian internal yang baik dan sudah menerapkannya secara efektif dan konsisten maka keandalan laporan keuangan perusahaan tersebut dapat dipercaya.Dalam memberikan pendapat atas kewajaran laporan yang di auditnya, Auditor meletakkan kepercayaan atas efektivitas pengendalian internal dalam mencegah terjadinya kesalahan yang material dalam proses akuntansi.
  1. Adanya pengendalian intern yang sangat baik biasanya tidak dapat menemukan kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh pegawai secara individu tetapi akan segera menemukan kecurangan-kecurangan yang dilakukan dengan kerjasama beberapa pegawai.

>>TIDAK SETUJU
Karena dengan adanya pengendalian internal yang baik dan prosedur yang membantu memastikan bahwa arahan manajemen dilakukan dengan baik. Suatu entitas JUSTRU akan lebih mudah menemukan kesalahan, kecurangan dan tindakan penipuan yang dilakukan oleh seorang individu. Dengan adanya pengendalian internal yang sangat baik tidak memungkinkan seorang individu berbuat kecurangan, atau dalam kata lain kemungkinan kesalahan yang dilakuakn individu sangat kecil karena mudah dilacak dan dikendalikan.

Misalnya saja dalam pengendalian keamanan harta perusahaan yang berupa kas, tentu sebuah perusahaan menerapkan beberapa sistem untuk mengendalikan aktiva ini, seperti menaruh kas yang ada diperusahaan dalam brankas sebelum disetor ke bank, setiap hari harus menyetor kas ke bank dan mengarsipkan slip atau dokumen setoran. Hal ini memperkecil resiko kecurangan yang akan dilakukan oleh individu (kasir) dalam menggelapkan uang.
Keadaan ini akan sangat berbeda jika kecurangan dan pencurian kas tersebut dilakukan oleh beberapa orang atau manajemen, tentu auditor akan lebih sulit melacaknya. Meskipun pengenalian internal dalam sebuah perusahaan sudah bagus bila tidak ada kerjasama antara SDM atau semua individunya maka pengendalian tersebut tidak akan berjalan efektif sehingga mengesampingkan fungsi pengendalian intern yang ada. Dalam hal ini pengendalian inter bisa gagal.

  1. Standar pekerjaan lapangan keempat berbunyi: “bukti transaksi (bukti audit) kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit”

>TIDAK SETUJU. Standar pekerjaan lapangan diatas bukan yang keempat namun yang ketiga.
3 standar pekerjaan lapangan audit adalah:
  • Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya.”
  • Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.”
  • Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit.”

>>TIDAK SETUJU dengan pernyataan standar pekerjaan lapangan yang ketiga yang menyatakan bahwa bukti audit kompeten..... dst. Karena ukuran validitas bukti audit untuk tujuan audit tergantung pada pertimbangan auditor independen. Dalam hal ini bukti audit (audit evidence) berbeda dengan bukti hukum (legal evidence) yang diatur secara tegas oleh peraturan yang ketat. Bukti audit sangat bervariasi pengaruhnya terhadap kesimpulan yang ditarik oleh auditor independen dalam rangka memberikan pendapat atas laporan keuangan auditan.
  1. Dalam melaksanakan pemeriksaannya auditor harus memeriks seluruh transaksi dan bukti-bukti yang terdapat di perusahaan.

>>TIDAK SETUJU
Dalam melakukan pemeriksaan yang berkaitan dengan jumlah atau kuantitas bukti audit, seorang auditor harus mempertimbangkan beberapa hal. Kecukupan bukti audit tergantung dengan berapa banyak bukti yang akan diambil.
Dalam prosedur BUKTI AUDIT, seorang auditor tidak langsung bertindak mengumpulan semua bukti, tetapi juga harus berdasarkan beberapa faktor dibawah ini:
  • Materialitas : Auditor harus membuat pendapat pendahuluan atas tingkat materialitas laporan keuangan
  • Resiko audit: Ada hubungan terbalik antara risiko audit dengan jumlah bukti yang diperlukan untuk mendukung pendapat auditor atas laporan keuangan.
  • Faktor-faktor ekonomi: Auditor memilih keterbatasan sumber daya yang digunakan untuk memperoleh bukti yang digunakan sebagai dasar yang memadai untuk memberikan pendapat atas kewajaran laporan keuangan.
  • Ukuran dan karakteristik populasi: Auditor tidak mungkin menghimpun dan mengevaluasi seluruh bukti yang ada untuk mendukung pendapatnya.

  1. Kertas kerja pemeriksaan adalah semua berkas-berkas yang dikumpulkan oleh auditor dalam menjalankan audit, berasal dari pihak klien dan dari pihak ketiga (bank,pelanggan dan lain-lain)

>>SETUJU
Kertas kerja dalam pemeriksaan dapat didefinisikan sebagai SEMUA BERKAS YANG DIKUMPULKAN AUDITOR DALAM MENJALANKAN PROSES AUDIT ATAU PEMERIKSAAN.
Kertas kerja dapat terdiri dari:
Klien > misalnya saja Neraca Saldo, Rekonsiliasi Bank, Analisa Umur Piutang dll
Analisis yang dibuat auditor > misalnya Konsep Laporan Audit dan Management Letter.
Dari Pihak Ketiga > misalnya hasil jawaban konfirmasi piutang,hutang dan Bank

  1. Supaya kertas kerja terlihat baik dan tebal auditor harus sebanyak mungkin memfotocopy dokumen klien seperti BB, kartu piutang dan bukti-bukti pendukung.
>>TIDAK SETUJU
Menurut saya memperbanyak bukti audit itu bukan kriteria BAIK dalam menilai kertas kerja yang digunakan dalam pemeriksaan (audit working papers).
Yang paling penting adalah isi atau substansi dari kertas kerja tersebut. Yang biasanya disusun seperti berikut:

    • Draft laporan audit
    • Laporan keuangan auditan
    • Ringkasan informasi bagi reviewer
    • Program audit
    • Laporan keuangan atau lembar kerja yang dibuat oleh klien
    • Ringkasan jurnal penyesuaian
    • Working trial balance
    • Skedul utama
    • Skedul pendukung

MANAJEMEN KEUANGAN : BIAYA KREDIT DAGANG

- by Wiwin Juli · - 2 Comments

MODUL.1
BIAYA KREDIT DAGANG


Perusahaan-perusahaan yang menjual barang secara kredit mempunyai kebijakan penjualan kredit yang mencakup syarat kredit tertentu. Sebagai contoh, Microchip Electronic menjual dengan syarat 2/10, bersih 30, yang berarti potongan 2% diberikan jika pembayaran dilakukan dalam jangka waktu 10 hari sejak tanggal faktur dan jumlah penuh harus dibayarkan dalam jangka waktu 30 hari jika potongan tidak diambil.
Perhatikan bahwa harga yang sebenarnya dari produk Micochips adalah harga neto, yakni 0,98 (harga terdaftar) karena setiap pelanggan dapat membeli barang dengan “potongan” 2% selama pelanggan tersebut membayar dalam jangka 10 hari. Sekarang perhatikan Personal Computer Company (PCC), yang membeli chip memorinya dari Microchip. Salah satu chip memori yang paling umum digunakan terdaftar pada harga $100, jadi biaya yang sebenarnya bagi PCC adalah $98. Sekarang jika PCC ingin tambahan kredit 20 hari di luar periode potongan 10 hari, ia harus mengeluarkan beban keuangan $2 per chip untuk kredit itu. Jadi, harga terdaftar $100 dapat dinyatakan sebagai berikut:
Harga terdaftar = harga sebenarnya $98 + beban keuangan $2
Pertanyaan yang harus diajukan PCC sebelum mengambil tambahan jangka waktu kredit 20 hari dari Microchip adalah apakah perusahaan dapat memperoleh kredit yang sama dengan syarat yang lebih baik dari pemberi pinjaman lain, misalnya bank. Dengan perkataan lain, apakah jangka waktu kredit tersebut dapat diperoleh dengan biaya kurang dari $2 per chip?
PCC membeli rata-rata chip memori seharga $11.760.000 dari Microchip setiap tahun pada harga bersih atau harga yang sebenarnya. Jumlahnya mencapai $11.760.000/360 = $32.666,67 per hari. Untuk menyederhanakan, asumsikan bahwa Microchip adalah satu-satunya pemasok PCC. Jika PCC memutuskan untuk tidak mengambil jangka waktu tambahan untuk kredit dagang tersebut-yaitu, jika ia membayar pada hari ke-10 dan mengambil potongan-rata-rata utangnya menjadi akan menjadi 10(32.667,67) = $326.667. Jadi PCC akan menerima kredit sebesar $326.667 dari Microchip Electronics
Andaikan PCC memutuskan untuk mengambil tambahan jangka waktu kredit 20 hari tersebut, apa yang kana terjadi? Pertama, PCC akan membayar faktur tagihan pada hari ke-30 yang mengakibatkan naiknya jumlah utang menjadi 30($32.666,667) = $980.000. Microchip sekarang akan memberikan PCC kredit tambahan $980.000 - $326.667 = $653.333 yang dapat digunakan PCC untuk mengisi akun kas, melunasi pinjaman, menambah persediaan, atau bahkan memperpanjang syarat kreditnya kepada pelanggan sehingga meningkatkan piutang usahanya sendiri.

Tambahan jangka waktu kredit dari Microchip mempunyai biaya-PCC harus membayar beban keuangan karena melepaskan potongan sebesar 2%. PCC membeli chip senilai $11.760.000 pada harga yang sebenarnya, dan tambahan beban keuangan tersebut meningkatkan total biaya PCC menjadi $11.760.000/0,98 = $12 juta. Sehingga biaya keuangan tahunan menjadi $12.000.000 - $11.760.000 = $240.000. Dengan memmbagi biaya keuangan $240.000 dengan jumlah tambahan kredit $653.333,kita akan memperoleh tingkat biaya nominal tahunan dari tambahan kredit dagang sebesar 36,7%:
$240.000
Biaya nominal tahunan = = 36,7%
$653.333

Seandainya PCC bisa mengambil kredit dari bank atau sumber dana lain dengan suku bunga di bawah 36,7%, perusahaan sebaiknya mengambil potongan dan melepaskan tambahan kredit kredit dagang.

Persamaan berikut dapat digunakan untuk menghitung biaya nominal tahunan, apabila potongan tidak diambil, yang digambarkan dengan syarat 2/10, bersih 30.

Biaya Persen Potongan 360 hari
Nominal = x
Tahunan 100% - Persen Potongan Jangka Waktu – Periode
Kredit Potongan
2 360
= x = 2,04% x 18 = 36,7%
  1. 20

Pembilang pada bagian pertama, yaitu persen potongan,adalah biaya dari setiap satu dolar kredit, sedangkan penyebutnya (100% - % potongan) merupakan dana yang tersedia karena potongan tidak diambil. Jadi bagian pertama 2,04 %, adalah biaya periodik dari kredit dagang itu.Penyebut bagian kedua menunjukkkan jumlah hari dari kredit tambahan yang diperoleh dengan tidak mengambil potongan, jadi keseluruhan bagian kedua menunjukkan berapa kali dalam setiap tahun biaya ini terjadi, dalam contoh ini 18 kali.
Rumus biaya nominal tahunan ini tidak memperhitungkan pemajemukan (compounding), sedangkan dalam satuan bunga tahunan efektif, biaya kredit dagang tampak jauh lebih tinggi. Potongan tersebut mencapai jumlah bunga, dan dengan syarat 2/10, net 30, perusahaan memanfaatkan penggunaan dana untuk 30 – 10 = 20 hari, jadi ada 360/20 = 18 “periode bunga” per tahun. Ingatlah bahwa bagian pertama persamaan 0,02/98 = 0,0204, adalah suku bunga periodik, yang dibayarkan 18 kali setiap tahun, jadi biaya tahunan efektif dari kredit dagang itu adalah:
Suku bunga tahunan efektif = (1,0204)18 – 1= 1,439 – 1 = 43,9%
Jadi biaya nominal 36,7% lebih rendah dari biaya yang sebenarnya. Akan tetapi, biaya kredit dagang yang sebenarnya dapat dikurangi apabila pembayaran melampaui jatuh tempo atau mengulur pembayaran utang (stretching account payable). Misalnya PCC membayar 60 hari, periode kredit efektif akan menjadi 60 – 10 = hari, dan jumlah berapa kali terjadi kehilangan potongan akan turun menjadi 360/50 = 7,2 dan suku bunga tahunan efektif akan turun dari 43,9% menjadi 15,7%
Pengaruh Kredit Dagang terhadap Laporan Keuangan
Kebijakan perusahaan untuk mengambil atau melepaskan potongan dapat mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap laporan keuangan. Sebagai gambaran, anggaplah bahwa PCC baru saja memulai operasinya. Pada hari pertama, perusahaan melakukan pembelian bersih senilai $32.666,67. Jumlah ini dicatat pada neraca sebagai utang usaha. Pada hari kedua dilakukan lagi pembelian barang senilai $32.666,67. Karena pembelian pertama belum dibayar, maka jumlah utang pada hari kedua menjadi $65.333,33. Utang usaha naik lagi dengan $32.666,67 pada hari ketiga, menjadi total $98.000 dan sesudah sepuluh hari jumlah utang menjadi $326.666,70.
Jika PCC mengambil potongan, pada hari ke-11 perusahaan harus membayar $32.666,67 untuk pembelian hari pertama, yang akan mengurangi utang usaha. Akan tetapi, perusahaan akan membeli lagi sejumlah $32.666,67 yang akan meningkatkan utang. Jadi, setelah beroperasi 10 hari, neraca PCC akan stabil engan saldo utang sebesar $326.667, dengan asumsi perusahaan membayar pada hari ke-10 dan mendapat potongan.
Sekarang andaikan PCC memutuskan tidak mengambil potongan. Dalam hal ini, pada hari ke-11 utang bertambah lagi sebesar $32.666,67, tetapi perusahaan belum akan membayar pembelian yang dilakukan pada hari ke-1. Jadi, angka utang di neraca akan naik menjadi 11($32.666,67) = $359.333,37. Penumpukan utang ini akan terus berlanjut sampai hari ke-30, dimana utang akan berjumlah sebesar 30($32.666,67) = $980.000. Pada hari ke 31, PCC akan membeli lagi barang senilai $32.666,67 secara kredit, tetapi ia juga akan membayar sejumlah itu untuk pembeliannya pada hari ke-1, sehingga mengurangi utang. Jadi, sejak hari ke-31 jumlah utang usaha akan stabil pada jumlah $980.000 apabila PCC tidak mengambil potongan.
Bagian atas dari tabel 17-1 memperlihatkan neraca PCC setelah mencapai keadaan stabil untuk kedua kebijakan kredit yang bisa ditempuh. Total aktiva untuk kedua kebijakan tersebut tidak berubah, juga diasumsikan bahwa pos-pos akrual dan saham biasa tidak berubah. Perbedaannya terletak pada utang usaha (account payable) dan wesel bayar (notes payable); ketika PCC memutuskan untuk mengambil potongan yang berarti melepaskan kedit dagang yang seharusnya diperoleh, ia harus mengusahan dana dari sumber lain sejumlah $653.333. Untuk tujuan tersebut ia dapat menjual saham biasa atau obligasi jangka panjang, tetapi PCC memilih menggunakan kredit bank dengan suku bunga 10%. Kredit bank ini dicerminkan pada akun wesel bayar.
Bagian bawah dari tabel 17-1 menyajikan laporan rugi-laba. Jika PCC tidak mengambil potongan, beban bunganya tidak ada, tetapi ia akan mempunyai beban karena kehilangan potongan sebesar $240.000. di lain pihak, jika potongan tidak diambil, PCC akan membayar beban bunga sebesar $65.333, tetapi tidak ada biaya kehilangan potongan. Karena kehilangan potongan lebih besar dari pada beban bunga, keputusan untuk mengambil potongan menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi dan hal tersebut akan menaikkan harga sahamnya.
Komponen Kredit Dagang: yang Gratis lawan yang Berbiaya
Beradasarkan pembahasan sebelumnya, kita dapat membagi kredit dagang ke dalam dua komponen: (1) Kredit dagang gratis (free trade credit) yaitu kredit yang diterima selama periode potongan, yang untuk PCC jumlahnya sama dengan pembelian bersih selama 10 hari, atau $326.667;dan (2) Kredit dagang berbiaya (costly trade credit) yaitu kredit yang diambil karena melebihi kedit dagang yang gratis dan biayanya adalah implisit berdasarkan potongan yang tidak diambil. PCC dapat memperoleh kredit dagang $653.333 untuk pembelian bersih selama 20 hari, dengan biaya sekitar 37%. Perusahaan sebaiknya menggunakan yang gratis, namun sebaiknya perusahaan menggunakan kommponen yang berbiaya, jika jumlah kedit tersebut lebih kecil ketimbang dana yang diperoleh dari sumber lain.


Pinjaman bank Komersial
Suku bunga “Reguler”
Penentuan suku bunga efektif atau suku bunga yang sebenarnya dari suatu pinjaman tergantung pada suku bunga yang dinyatakan (stated) dan metode yang digunakan pemberi pinjaman dalam membebankan bunganya. Jika bunga dibayar pada saat jatuh tempo pinjaman, maka suku bunga yang dinyatakan merupakan suku bunga efektif. Misalnya, pinjaman sebesar Rp.20 juta selama satu tahun dengan suku bunga 10%, buganya adalah Rp.2 juta

Pinjaman “Reguler” , bunga Bunga Rp2 juta
dibayar pada saat jatuh tempo = = = 10%
Jumlah Pinjaman Rp 20 juta

Suku bunga Didiskonto
Jika bank menarik bunga pada saat pinjaman diberikan (mendiskonto pinjaman), maka suku bunga efektifnya akan meningkat.Pada pinjaman Rp.20 juta selama satu tahun dengan suku bunga 10%, diskontonya adalah Rp.2 juta dan peminjam hanya memperoleh, Rp.18 juta. Suku bunga efektifnya adalah 11,1%
Bunga Rp.2 juta
Pinjaman Didiskonto = = = 11,1%
Jumlah Pinjaman – Bunga Rp.18 juta

Pinjaman Angsuran (Installment Loan)
Perbedaan pinjaman “reguler” dan pinjaman didiskonto, terletak pada pembayaran pinjaman pokok pada saat jatuh tempo. Pada metode angsuran, pembayaran pinjaman pokok dilakukan secara periodik (misalnya bulanan) selama jangka waktu pinjaman. Pinjaman angsuran dapat dibayar melalui dua cara. (1) Pinjaman angsuran add-on, pinjaman bersih yang diterima sama dengan jumlah pinjaman nominal, tetapi bunga ditambahkan pada pinjaman pokok untuk menghitung angsuran bulanan. (2) Pada pinjaman angsuran didiskonto, bunga dikurangkan dari pinjaman pokok untuk memperoleh pinjaman bersih yang diterima, sedangkan angsuran didasarkan pada nilai pinjaman nominal sepenuhnya. Contoh;
1. Pinjaman Angsuran Add-on

Jumlah pinjaman Rp.20.000.000
Suku bunga yang dinyatakan 10%
Bunga add-on Rp. 2.000.000
Jumlah pinjaman dan bunga Rp.22.000.000
Angsuran bulanan (Rp.22.000.000 / 12) Rp. 1.833.330

Jumlah pinjaman = Pembayaran periodik x PVIFA (r e, n periode)
1
1 -
(1 + r / q) q
Rp.20.000.000 = Rp.1.833.330
r / q

Dengan mengunakan kalkulator keuangan diperoleh bahwa (r/q) kira-kira sama dengan 0,01497637272 = 0,015 = 1,5% atas dasar bulanan atau 18% dengan pemajemukan bulanan dan tingkat persentase tahunan (istilah lain untuk suku bunga efektif) sebesar 19,56% yang dihitung dari (1 + 0,015)12 – 1.
2. Pinjaman Angsuran Didiskonto

Jumlah pinjaman Rp.20.000.000
Suku bunga yang dinyatakan 10%
Dikurangi bunga Rp. 2.000.000
Jumlah diterima Rp.18.000.000
Angsuran bulanan (Rp.20.000.000 / 12) Rp. 1.666.670

Jumlah pinjaman = Pembayaran periodik x PVIFA (r e, n periode)
1
1 -
(1 + r / q) q
Rp.18.000.000 = Rp.1.666.670
r / q

Dengan mengunakan kalkulator keuangan diperoleh bahwa (r/q) kira-kira sama dengan 0,0165940094 = 0,01659 = 1,659% atas dasar bulanan atau 19,91% dengan pemajemukan bulanan dan suku bunga efektif (annual percentage rate, APR) sebesar 21,83% yang dihitung dari (1 + 0,01659)12 – 1.
Saldo kompensasi
Bank kadangkala mensyaratkan peminjam untuk mempertahankan saldo rekening koran sebesar 10% atau 20% dari jumlah peminjam. Ini disebut saldo kompensasi (Compensating Balance-CB), sehingga, suku bunga efektif meningkat. Misalnya, jika suatu perusahaan memerlukan $80.000 untuk melunasi utang obligasinyanya, tetapi 20% dari pinjaman harus ditahan sebagai saldo kompensasi, perusahaan harus meminjam sebesar $100.000 agar perusahaan dapat menggunakan $80.000. Jika suku bunga yang dikenakan 8%, suku bunga efektifnya adalah 10%; bunga $8.000 dibagi dengan total pinjaman yang bisa digunakan sebesar $80.000

Latihan Soal:
1. PT. Fiesta sedang mempertimbangkan untuk merubah kebijakan kredit. Saat ini perusahaan menjual 500 unit setiap minggu dengan harga Rp 25.000 per unit dengan gross profit margin 30%. Perusahaan menawarkan potongan 3% untuk pembayaran yang lebih awal dan 30% langganan memanfaatkan potongan tersebut serta membayarnya hingga hari ke-15. Periode pengumpulan piutang saat ini adalah 60 hari dan tingkat piutang macet 2%. Karena faktor inflasi perusahaan berniat mengubah kebijakan kredit antara lain; harga jual dinaikkan menjadi Rp 30.000 dengan gross profit margin tetap dipertahankan 30%. Penjualan diperkirakan naik menjadi 600 unit per minggu. Untuk mempercepat turn over periode pengumpulan piutang diperpendek menjadi 45 hari dan potongan (discount) dinaikkan menjadi 5% yang diperkirakan langganan yang membayar dalam waktu 15 hari akan meningkat menjadi 40% dan piutang macet diperkirakan akan turun menjadi 1%. Bila biaya modal perusahaan 13,5%, haruskah perusahaan merubah kebijakan kreditnya?
2. Berapakah biaya kredit dagang nominal dan efektif (atas dasar 360 hari) sesuai dengan syarat kredit 3/15, bersih 30
3. Sebuah pengecer yang besar mendapatkan barang dengan syarat kredit 1/15, bersih 45, tetapi secara rutin memerlukan waktu 60 hari untuk membayar tagihannya. Dengan ketentuan bahwa pengecer itu adalah pelanggan penting, pemasok memperbolehkan perusahaan untuk melonggarkan syarat kredit. Berapakah biaya efektif kredit dagang pengecer itu (atas dasar 360 hari)
4. Del Hawley’s Hardware, sedang merundingkan pinjaman sebesar $50.000 untuk jangka waktu 1 tahun dengan First City Bank. Hawley ditawari alternatif berikut oleh First City. Hitunglah suu bunga tahunan efektif untuk setiap alternatif. Alternatif mana yang mempunyai suku bunga tahunan efektif terendah?
1. Pinjaman dengan suku bunga sederhana 12% per tahun, tanpa saldo kompensasi dan suku bunga dibayar pada akhir tahun.
2. Pinjaman dengan suku bunga sederhana 9% per tahun, dengan saldo kompensasi 20% dan suku bunga dibayar pada akhir tahun.
3. Pinjaman dengan suku bunga diskonto 8,75% per tahun dengan saldo kompensasi 15%
4. Bunga ditetapkan 8% atas jumlah $50.000; bunga dibayar pada akhir tahun, tetapi pokok pinjaman sebesar $50.000 tersebut dapat diangsur setiap bulan dalam satu tahun.
5. D.J.Masson Corporation memerlukan $500.000 untuk satu tahun guna memasok modal kerja untuk sebuah toko baru. Mason membeli dari pemasoknya dengan syarat 3/10, bersih 90 dan saat ini ia membayar pada hari ke-10 dan mengambil potongan, tetapi ia dapat melepaskan potongan dan membayar pada hari ke 90, dan mendapatkan $500.000 yang dibutuhkan dalam bentuk kredit dagang berbiaya. Alternatifnya, Masson dapat meminjam dari bank atas dasar suku bunga diskonto 12%. Berapakah suku bunga tahunan efektif dari sumber dengan biaya yang lebih rendah?
6. Andaikan suatu perusahaan melakukan pembelian snilai $3,6 juta per tahun dengan syarat 2/10, bersih 30 dan perusahaan tersebut mengambil potongan.
a. Berapakah jumlah utang usaha rata-rata dari perusahaan tersebut setelah dikurangi potongan (anggaplah pembelian $3,6 juta telah memperhitungkan potongan dan 1 tahun 360 hari)
b. Apakah perusahaan tersebut menggunakan kredit dagang yang berbiaya?
c. Jika perusahaan tidak mengambil potongan tetapi membayarnya pada saat jatuh tempo, berapa jumlah utangnya secara rata-rata dan berapa biaya kredit dagang yang berbiaya?
d. Berapa biaya karena tidak mengambil potongan apabila pembayaran dapat diulur menjadi hari ke-40?
1. Jelaskan mengapa pernyataan berikut benar:”Jika hal-hal lain tetap sama, perusahaan dengan penjualan yang relatif stabil mampu mempunyai rasio utang yang relatif tinggi.”
  1. Mengapa perusahaan umum menjalankan kebijakan keuangan yang berbeda dari perusahaan eceran.?
  2. Mengapa EBIT pada umumnya dianggap tidak terpengaruh oleh leverage keuangan?
Mengapa EBIT dalam kenyataannya bisa dipengaruhi oleh leverage keuangan apabila rasio utang sangat tinggi?
4. Jika utang perusahaan bertambah mulai dari nol hingga sangat tinggi mengapa harga sahamnya diperkirakan mula-mula akan naik, kemudian mencapai puncaknya dan lalu mulai menurun?
5. Mengapa tingkat utang perusahaan yang memaksimumkan EPS yang diharapkan pada umumnya lebih tinggi dari pada tingkat utang yang memaksimumkan harga sahamnya?
6. Anggaplah anda sedang memberi pengarahan kepada manajemen suatu perusahaan mengenai kemungkinan menggandakan jumlah aktivanya guna melayani pasar yang sedang tumbuh pesat. Perusahaan itu harus memilih antara proses produksi yang sangat terotomatisasi dengan yang kurang terotomatisasi dan ia juga harus memilih struktur modal untuk membiayai perluasan itu. Apakah keputusan yang menyangkut investasi dan pembiayaan tersebut harus diambil secara bersama-sama atau terpisah? Bagaimana keputusan-keputusan ini saling mempengaruhi satu sama lain? Bagaimana konsep leverage dapat dipergunakan untuk membantu manajemen menganalisa situasi tersebut?
7. Gentry Motors,Inc, sebuah produsen generator turbin,menghadapi situasi berikut: EBIT = $4 juta; tarif pajak = t = 35%; utang yang beredar = D =$2juta; kd = 10%; ks = 15%; jumlah lembar saham yang beredar = No = 600.000; dan nilai buku per saham = $10. Karena pasar produk Gentry stabil dan perusahaan tersebut tidak mengharapkan adanya pertumbuhan,semualaba dibayarkan sebagai dividen. Utang tersebut terdiri dari obligasi perpetual.
a. Berapa laba per saham (EPS) dan harga saham Gentry (Po)?
b. Berapa biaya rata-rata tertimbang dari modal (WACC) Gentry?
c. Gentry dapat menaikkan utangnya sebesar $8 juta, sehingga jumlah totalnya menjadi $10 juta dan menggunakan utang yang baru tersebut untuk membeli dan melunasi sebagian sahamnya sesuai harga yang berlaku saat ini. Suku bunga atas utang tersebut adalah 12% (utang lama akandilunasi), dan biaya ekuitas akan naik dari 15% menjadi 17%, sedangkan EBIT akan tetap konstan. Apakah Gentry harus mengubah struktur modalnya?
d. Jika utang lama sebesar $2 juta tidak harus dilunasi, apa pengaruh dari hal ini? Asumsikan bahwa utang baru dan utang yang sedang beredar sama-sama berisiko,dengan kd = 12%,tetapi tingkat kupon atas utang lama adalah 10%.
e. Berapa rasio kemampuan gentry untuk membayar bunga dalam keadaan semula dan dalam keadaan seperti soal c.

METODOLOGI PENELITIAN :LANGKAH-LANGKAH TELAAH/REVIEW SKRIPSI BAB 3

- by Wiwin Juli · - 0 Comments

Tugas Metodologi Penelitian
Nama :Wiwin Juliyanti
NIM :110422425527
Kelas :EE/S1 Akt/2011


Telaah Kritis Skripsi Bab III
Judul Skripsi :Analisis Perbandingan Kesehatan Perbankan Antara Penerapan Prinsip Syariah dan Konvensional Periode 2008-2010 (Oleh Mohamad Bisri)
A.Rancangan Penelitian
Ditinjau dari tingkat eksplanasi atau tingkat penjelasan penelitian maka penelitian ini termasuk penelitian komparatif dimana penelitian bersifat membandingkan.
B.Definisi Operasional
Dalam bagian ini penelitti menjabarkan beberapa definisi dari istilah-istilah yang menjadi obyek dari penelitian seperti CAR (Capital Adequaci Ratio), BDR (Bad Debt Ratio), ROA (Return on Asset), ROE (Return on Equity), BOPO dan LDR (Loan to Deposit Ratio)
C.Populasi dan Sampel
Populasi : Perbankan syariah dan konvensional yang ada di Indonesia antara 2008-2010. Terdapat 132 lembaga perbankan sebagai populasi dalam penelitian ini. 10 diantaranya dikategorikan sebaga perbankan syariah dan 112 perbankan konvensional.
Sampel: Teknik pengambilan sampel yang digunakan oleh peneliti adalah metode purposive sampling yaitu sampel yang dipilih berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu sesuai dengan tujuan dan masalah penelitian.
Bank Syariah : Terdapat 10 populasi, 7 diantaranya belum mengeluarkan laporan keuangan triwulanan sehingga tersisa 3 yang termasuk Badan Usaha Syariah. Tiga sampel tersebut adalah: PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank Mega Syariah dan Bank Muamalat.
Bank Konvensional: Terdapat 122 populasi, hanya 34 yang listing di BEI, dan hanya terdapat 27 sampel yang menerbitkan laporan keuangan triwulanan yang memadai selama periode penelitian, dari 27 sampel tersebut akhirnya diambil 3 sampel berdasarkan peringkat 3 besar Bank Konvensional jika dilihat dari segi profitnya yaitu: PT Bank Mandiri, PT Bank Rakyat Indonesia dan PT Bank Central Asia.
D.Jenis, Sumber dan Teknik Pengumpulan Data
Jenis Data : data kuantitatif berupa data nominal yang diambil dari website masing-masing bank.
Sumber Data : data sekunder yaitu berupa laporan keuangan triwulanan periode 2008-2010 dari website : www.muamalatbank.com, www.syariahmandiri.co.id, www.bsmi.co.id, www.klikbca.com, www.bri.com, dan www.bankmandiri.co.id
Teknik Pengumpulan Data: berupa teknik dokumentasi dengan cara mempelajari literatur, buku dan laporan keuanngan perusahaan yang diperoleh dari website.
E.Obyek Penelitian : rasio keuangan masing-masing bank yang menjadi sampel.
F.Teknik Analisis Data:Jika dinyatakan normal maka uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis independen sampel t-test, sedangkan jika dinyatakan tidak normal maka uji hipotesis dengan uji statistik non parametrik yaitu Wilcoxon Signed Rank Test.Uji normalitas data, menggunakan metode Skewnes dan Kurtosis dengan menggunakan spss 16 for windows. Probabilitas nilai berada pada nilai kritis +- 1,96 sig 5% berarti normal.
Uji hipotesis penelitian menggunakan formulasi Ho dan Ha untuk tiap variabel digunakan pengujian dua sisi.
Kritik bab III:
Dalam bab III ini peneliti menuliskan judul METODOLOGI PENELITIAN. Menurut saya ini kurang tepat dan tidak sesuai dengan Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (PPKI). Metodologi penelitian adalah sekumpulan peraturan, kegiatan dan prosedur yang digunakan oleh pelaku suatu disiplin ilmu. Metodologi juga merupakan analisis teoritis mengenai suatu cara atau metode. Seharusnya yang ditulis dalam kepala bab III adalah METODE PENELITIAN (merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu).
Selain itu teknik pengambilan sampel yang digunakan peneliti adalah Purposive Sampling, dimana sampel dipilih oleh peneliti berdasarkan pertimbangan tertentu sesuai tujuan dan masalah penelitian, dalam hal ini populasi perbankan syariah hanya ada 10 sementara 7 sampel dari populasi tersebut tidak menerbitkan laporan keuangan triwulanan dan hanya tersisa 3 yang akhirnya menjadi sampel dalam penelitian tersebut yaitu Bank Syariah Mandiri, Bank Mega Syariah dan Bank Muamalah. Sehingga terjadi perbedaan kriteria pengambilan sampel dengan bank konvensional yang mempunyai populasi lebih banyak yaitu diambil 3 sampel yaitu PT Bank Mandiri, PT Bank Rakyat Indonesia dan PT Bank Central Asia berdasarkan peringkat 3 besar atas profit/keuntungan yang dihasilkan.



REVIEW JURNAL SKRIPSI AKUNTANSI :Pengaruh struktur modal terhadap harga saham pada perusahaan perbankan yang listing di BEI periode 2009-2010

- by Wiwin Juli · - 0 Comments

TUGAS METODOLOGI PENELITIAN
LINDA KRISTANTI/110422425555
S1 AKUNTANSI

Judul :Pengaruh struktur modal terhadap harga saham pada perusahaan perbankan yang listing di BEI periode 2009-2010
Penelitian ini dilakukan karena dalam beberapa penelitian yang dilakukan sebelumnya terdapat pengaruh antara struktur modal terhadap harga saham. Banyak penelitian yang memiliki hubungan antara struktur modal dan harga saham. Muhammad (2006) menemukan bahwa struktur modal mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham. Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Arbianti (2008)dan Sitepu (2010) yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara struktur modal dengan harga saham.
Namun penelitian yang dilakukan Kesema (2009) tidak menunjukkan adanya pengaruh antara struktut modal dengan harga saham. Struktur modal terdiri dari Variable Debt to Asset Ratio, Debt to Equity Ratio dan Equity to Asset Ratio. Penelitian yang telah dilakukan terhadap variable Debt to Asset Ratio dan pengaruhnya terhadap harga saham yang dilakukan oleh Arbianti (2008) yang menemukan bahwa Debt to Asset Ratio mempunyai pengaruh terhadap harga saham.
Penelitian yang dilakukan oleh Sitepu (2010) dan Muhammad (2006) yang menunjukkan bahwa Debt to Asset Ratio tidak memberikan pengauh terhadap harga saham. Selain variabel DAR variabel yang lain adalah DER. Hubungan antara DER dengan harga saham diteliti oleh Muhammad (2006) yang menghasilkan bahwa variabel DER memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham.
Namun penelitian yang dilakukan Arbianti (2008) bahwa variabel DER menunjukkan tidak terdapat pengaruh terhadap harga saham. Hubungan variabel EAR terhadap harga saham telah diteliti oleh Arbianti (2008) yang menunjukkan hasil terdapat penngaruh yang signifikan antara variabel EAR terhadap harga saham. Namun penelitian yang dilakukan oleh Muhammad (2006) dan Sitepu (2010) menunjukkan hasil yang berbeda yaitu tidak terdapat pengaruh EAR terhadap harga saham.
Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, maka penelitian ini akan menguji kembali sejauh mana harga saham dipengaruhi oleh struktur modal yang terdiri dari variabel DAR, DER dan EAR. Dimana variabel tersebut menunjukkan darimana sumber modal itu didapatkan .
Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas dan dengan adanya ketidak konsistenan hasil penelitian yang ada, maka peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : Pengaruh struktur modal terhadap harga saham pada perusahaan perbankan yang listing di BEI periode 2009-2010.


KRITISAN SKRIPSI DAN REVIEW JURNAL-METODOLOGI PENELITIAN :Analisis Perbandingan Kesehatan Perbankan Antara Penerapan Prinsip Syariah dan Konvensional

- by Wiwin Juli · - 0 Comments



KRITIK SKRIPSI BAB I
Judul Skripsi   : Analisis Perbandingan Kesehatan Perbankan Antara  Penerapan Prinsip   Syariah dan Konvensional Periode 2008-2010
Penulis             : Mohamad Bisri (307422410964)
Tahun              : 2012
A.Latar Belakang Masalah
Peneliti melakukan penelitian yang berjudul Analisis Perbandingan Kesehatan Perbankan Antara Penerapan Prinsip Syariah dan Konvensional Periode 2008-2010 ini dilatarbelakangi oleh beberapa alasan:
Sejak satu dasawarsa ini, perbankan merupakan industri yang mengalami kemajuan pesat.
Berdasarkan pembayaran bunga atau bagi hasil usahanya jenis bank di Indonesia dibedakan menjadi dua yaitu:
1.      Bank Konvensional
2.      Bank Syariah
Perkembangan industri keuangan syariah secara informal telah dimulai sebelum dikeluarkannya kerangka hukum formal sebagai landasan operasional perbankan di Indonesia.
Krisi Ekonomi dan Moneter sejak Juli 1997 juga berdampak pada perbankan nasional yang didominasi oleh bank-bank konvensional, pada saat itu fakta menunjukkan bahwa sistem perbankan syariah relatif tahan terhadap kondisi krisis, sehingga keberhasilan sistem perbankan syariah ditengah krisis ini dianggap sebagai sebuah hikmah dan berkah.
Jika dilihat dari sisi teknis Bank Konvensional  dan Bank Syariah yang menjadi bahasan peneliti ini memiliki beberapa kesamaan seperti teknis penerimaan uang, mekanisme transfer, teknologi komputer yang digunakan, syarat-syarat umum memperoleh pembiayaan seperti KTP, NPWP, proposal, laporan keuangan dsb. Selain itu perbedaan mendasar diantaranya mencakup aspek legal dalam pengakuan transaksi, struktur organisasi, usaha yang dibiayai dan lingkungan kerja.
Dengan alasan inilah timbul pertanyaan ‘apa yang sebenarnya membedakan sistem perbankan syariah dengan konvensional hingga mampu bertahan ditengah krisis ekonomi?’
Dari analisis mengenai persamaan dasar antara Bank Syariah dan Bank Konvensional tersebut peneliti memfokuskan penelitian dengan membandingkan tingkat kesehatan bank yang dilihat melalui analisis laporan keuangan.
Sehingga peneliti merasa perlu melakukan analisis terhadap Laporan Keuangan (Financial Statement Analysis), yang mana analisis ini digunakan untuk mengukur kekuatan dan kelemahan yang dihadapi pasar dalam bidang keuangan.
Analisis terhadap laporan keuangan tersebut meliputi penilaian terhadap rasio-rasio yang diuji untuk Bank Syariah dan Bank Konvensional seperti rasio permodalan, rasio aktiva, rasio rentabilitas dan rasio likuiditas.


Krtik terhadap Latar Belakang Masalah yang ditulis oleh peneliti:
Dalam latar belakang ini peneliti sudah menguraikan alur pikirannya mengenai hal-hal apa saja yang menyebabkan penelitian dilakukan. Latar belakang masalah yang diambil oleh peneliti sudah tepat. Peneliti juga menjelaskan topik permasalahan dari yang bersifat umum menjadi menyempit ke tujuan penelitian. Namun dalam sistematika penyampainnya peneliti terlalu banyak menjabarkan definisi dan menjelaskan panjang lebar mengenai suatu topik yang seharusnya tidak perlu untuk dituliskan dalam latar belakang seperti menjelaskan perkembangan bank konvensional dan sejarah bank syariah.
Dalam Latar Belakang Masalah ini peneliti menyampaikan Question Reasoning atau pertanyaan yang mendasari penelitian secara eksplisit, yaitu rasa ingin tahu peneliti terhadap perbedaan tingkat kesehatan perbankan syariah dengan bank konvensional, sehingga bank-bank syariah mampu bertahan terhadap krisis ekonomi.
Sehingga rumusan masalah yang dibuat peneliti adalah sebagai berikut:
Adakah perbedaan yang sigifikan atas kesehatan keuangan perbankan syariah jika dibandingkan dengan perbankan konvensional atas rasio permodalan, kualitas akktiva produktif, rasio rentabilitas dan rasio likuiditas?
Penelitian komparatif yang membandingkan tingkat kesehatan bank syariah dan bank konvensional ini




Tugas Metodologi Penelitian
Nama   : Wiwin Juliyanti
NIM    : 110422425527
Kelas   : Offering EE/S1 Akuntansi



Subscribe

Untuk berlangganan artikel dari blog ini, ketikkan alamat email kamu!

© 2011 JEJAK SEMESTER. All rights reserved.
Designed by SpicyTricks